Test Diagnostic TKA SMA

Mulai Test


0%

Report a question

You cannot submit an empty report. Please add some details.

SMA

Test Diagnostic TKA SMA

🎓 TKA DIAGNOSTIC SMA – GRATIS

Ukur Kemampuan Akademik Anak Secara Tepat & Bermakna

Sebagai orang tua dan pendidik, kita sering bertanya:
“Sebenarnya, sudah sejauh mana kemampuan akademik anak?”
Apakah ia benar-benar paham, atau hanya terbiasa mengerjakan soal?

Di era Kurikulum Merdeka, belajar bukan lagi soal menghafal.
Yang dibutuhkan adalah penalaran, literasi, dan numerasi yang kuat.

Sayangnya, tidak semua tes mampu menunjukkan kondisi sebenarnya.


🔍 Inilah Solusinya: TKA Diagnostic SD
dari Omni Sains Center

TKA Diagnostic SMP adalah tes pemetaan awal yang dirancang khusus untuk:

Mengukur kemampuan literasi & numerasi
Mengungkap cara berpikir dan penalaran anak
Menjadi dasar pengambilan keputusan pembelajaran selanjutnya

Tes ini bukan ujian biasa.
Ini adalah alat diagnosis, seperti “check-up akademik” untuk anak.


📘 Apa yang Diukur?

✏️ Literasi

Memahami informasi dari teks
Menarik kesimpulan
Menemukan pesan dan gagasan utama

🔢 Numerasi

Menyelesaikan masalah kontekstual
Berpikir logis dan sistematis
Menalar pola, data, dan hubungan antar konsep

Semua soal disusun berbasis HOTS dan selaras dengan Kurikulum Merdeka (Fase C).


📊 Apa yang Akan Orang Tua & Sekolah Dapatkan?

Setelah mengikuti tes, peserta akan memperoleh:

✔️ Gambaran capaian belajar anak saat ini
✔️ Kategori kemampuan (Perlu Pendampingan – Berkembang – Sangat Berkembang)
✔️ Analisis kekuatan & area yang perlu diperkuat
✔️ Rekomendasi penguatan dan pengayaan belajar

Bukan sekadar nilai, tapi insight yang bisa ditindaklanjuti.


🎁 Dan Ini Bagian Terbaiknya…

💡 TKA Diagnostic SMP ini 100% GRATIS

✔ Tanpa biaya pendaftaran
✔ Tanpa kewajiban mengikuti program lanjutan
✔ Murni untuk membantu pemetaan kemampuan anak

Kami percaya, keputusan pendidikan yang baik harus dimulai dari data yang benar.


👨‍👩‍👧‍👦 Siapa yang Sebaiknya Mengikuti Tes Ini?

Siswa SD kelas 4–6
Orang tua yang ingin memahami kebutuhan belajar anak
Sekolah yang ingin melakukan asesmen diagnostik awal
Lembaga yang mendukung pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka


🚀 Siap Mengenal Potensi Anak Lebih Dalam?

Jangan menunggu anak “tertinggal” baru bertindak.
Mulailah dengan pemetaan yang tepat hari ini.

👉 Daftar TKA Diagnostic SD (GRATIS) sekarang di:
🌐 www.omnisains.center

Omni Sains Center
Mengembangkan nalar, membangun prestasi.

1 / 30

Category: Matematika

Sebuah bakteri berjumlah 50.000 dan bertambah 12% per jam. Berapa jam minimum agar jumlahnya melebihi 100.000?

2 / 30

Category: Matematika

Dari titik A, sudut elevasi puncak menara adalah 30°. Setelah berjalan 20 m mendekati menara ke titik B pada garis lurus yang sama, sudut elevasi menjadi 45°. Tinggi menara adalah …

3 / 30

Category: Matematika

Jumlah kursi tiap baris di aula membentuk barisan aritmetika: baris pertama 15 kursi, baris kedua 18 kursi, dan seterusnya. Total kursi seluruhnya 945. Banyak baris kursi adalah …

4 / 30

Category: Matematika

Dalam sebuah kelas ada 6 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Akan dipilih 4 siswa untuk tim lomba dengan syarat minimal 2 perempuan. Banyak cara pemilihan adalah …

5 / 30

Category: Matematika

Lingkaran ( (x-2)^2+(y+1)^2=25 ) berpotongan dengan garis (y=2x-3) di dua titik. Jarak kedua titik potong tersebut adalah …

6 / 30

Category: Matematika

Maksimumkan (P=3x+2y) dengan kendala:

  • (x+y \le 10)
  • (2x+y \le 16)
  • (x \ge 0, y \ge 0)

Nilai maksimum (P) adalah …

7 / 30

Category: Matematika

Diberikan f(x) = (x-1)/(x+2) dengan x ≠ -2. Nilai f⁻¹(3) adalah …

8 / 30

Category: Matematika

Diberikan ( g(x)=x^3-3x^2-9x+1 ). Perhatikan pernyataan:

  1. (g'(x)=3x^2-6x-9)
  2. Titik stasioner terjadi pada (x=-1) dan (x=3)
  3. (g(x)) memiliki minimum lokal pada (x=3)
  4. Nilai maksimum lokal (g(x)) adalah 8

Pernyataan yang benar adalah …

9 / 30

Category: Matematika

Data: 4, 6, 8, 10. Simpangan baku populasi data tersebut adalah …

10 / 30

Category: Matematika

Diberikan A = [[2, 1], [k, 3]]. Perhatikan pernyataan:
1. det(A) = 6-k
2. A memiliki invers jika dan hanya jika k ≠ 6
3. Jika k=6, maka untuk setiap vektor b, sistem Ax=b selalu punya solusi tunggal
4. Jika k=5, maka det(A⁻¹) = 1

Pernyataan yang benar adalah …

11 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Kelas Hibrida: Solusi atau Sekadar Tren?”
Sebagian sekolah mulai menerapkan kelas hibrida: sebagian siswa hadir di kelas, sebagian lain mengikuti secara daring. Pendukungnya menyebut model ini memberi fleksibilitas, terutama ketika siswa sakit atau memiliki kegiatan tertentu. Selain itu, rekaman pembelajaran dinilai membantu siswa mengulang materi.
Namun, beberapa guru mengeluhkan peningkatan beban kerja. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus memastikan perangkat berjalan, memantau kolom chat, dan mengelola tugas yang masuk melalui dua jalur. Di sisi lain, tidak semua siswa memiliki akses perangkat dan jaringan yang stabil. Akibatnya, ketimpangan pengalaman belajar bisa makin lebar: siswa dengan koneksi baik lebih mudah mengikuti ritme kelas, sedangkan yang lain sering tertinggal.
Ada pula persoalan interaksi. Diskusi kelas yang hidup sering bergantung pada kontak langsung, bahasa tubuh, dan spontanitas. Dalam kelas hibrida, siswa daring cenderung pasif karena ragu menyela. Jika hal ini terjadi terus-menerus, pembelajaran dapat berubah menjadi satu arah.
Karena itu, kebijakan kelas hibrida sebaiknya tidak dipahami sebagai “jalan pintas modern”. Sekolah perlu menetapkan tujuan yang jelas, menyiapkan dukungan teknis, serta mengatur strategi interaksi agar siswa daring tetap terlibat. Tanpa itu, kelas hibrida berisiko menjadi label baru untuk masalah lama.

Gagasan utama teks adalah …

12 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Kelas Hibrida: Solusi atau Sekadar Tren?”
Sebagian sekolah mulai menerapkan kelas hibrida: sebagian siswa hadir di kelas, sebagian lain mengikuti secara daring. Pendukungnya menyebut model ini memberi fleksibilitas, terutama ketika siswa sakit atau memiliki kegiatan tertentu. Selain itu, rekaman pembelajaran dinilai membantu siswa mengulang materi.
Namun, beberapa guru mengeluhkan peningkatan beban kerja. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus memastikan perangkat berjalan, memantau kolom chat, dan mengelola tugas yang masuk melalui dua jalur. Di sisi lain, tidak semua siswa memiliki akses perangkat dan jaringan yang stabil. Akibatnya, ketimpangan pengalaman belajar bisa makin lebar: siswa dengan koneksi baik lebih mudah mengikuti ritme kelas, sedangkan yang lain sering tertinggal.
Ada pula persoalan interaksi. Diskusi kelas yang hidup sering bergantung pada kontak langsung, bahasa tubuh, dan spontanitas. Dalam kelas hibrida, siswa daring cenderung pasif karena ragu menyela. Jika hal ini terjadi terus-menerus, pembelajaran dapat berubah menjadi satu arah.
Karena itu, kebijakan kelas hibrida sebaiknya tidak dipahami sebagai “jalan pintas modern”. Sekolah perlu menetapkan tujuan yang jelas, menyiapkan dukungan teknis, serta mengatur strategi interaksi agar siswa daring tetap terlibat. Tanpa itu, kelas hibrida berisiko menjadi label baru untuk masalah lama.

Mengapa penulis menyebut “label baru untuk masalah lama”?

13 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Kelas Hibrida: Solusi atau Sekadar Tren?”
Sebagian sekolah mulai menerapkan kelas hibrida: sebagian siswa hadir di kelas, sebagian lain mengikuti secara daring. Pendukungnya menyebut model ini memberi fleksibilitas, terutama ketika siswa sakit atau memiliki kegiatan tertentu. Selain itu, rekaman pembelajaran dinilai membantu siswa mengulang materi.
Namun, beberapa guru mengeluhkan peningkatan beban kerja. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus memastikan perangkat berjalan, memantau kolom chat, dan mengelola tugas yang masuk melalui dua jalur. Di sisi lain, tidak semua siswa memiliki akses perangkat dan jaringan yang stabil. Akibatnya, ketimpangan pengalaman belajar bisa makin lebar: siswa dengan koneksi baik lebih mudah mengikuti ritme kelas, sedangkan yang lain sering tertinggal.
Ada pula persoalan interaksi. Diskusi kelas yang hidup sering bergantung pada kontak langsung, bahasa tubuh, dan spontanitas. Dalam kelas hibrida, siswa daring cenderung pasif karena ragu menyela. Jika hal ini terjadi terus-menerus, pembelajaran dapat berubah menjadi satu arah.
Karena itu, kebijakan kelas hibrida sebaiknya tidak dipahami sebagai “jalan pintas modern”. Sekolah perlu menetapkan tujuan yang jelas, menyiapkan dukungan teknis, serta mengatur strategi interaksi agar siswa daring tetap terlibat. Tanpa itu, kelas hibrida berisiko menjadi label baru untuk masalah lama.

Kata “itu” pada kalimat “Tanpa itu, kelas hibrida…” merujuk pada …

14 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Kelas Hibrida: Solusi atau Sekadar Tren?”
Sebagian sekolah mulai menerapkan kelas hibrida: sebagian siswa hadir di kelas, sebagian lain mengikuti secara daring. Pendukungnya menyebut model ini memberi fleksibilitas, terutama ketika siswa sakit atau memiliki kegiatan tertentu. Selain itu, rekaman pembelajaran dinilai membantu siswa mengulang materi.
Namun, beberapa guru mengeluhkan peningkatan beban kerja. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus memastikan perangkat berjalan, memantau kolom chat, dan mengelola tugas yang masuk melalui dua jalur. Di sisi lain, tidak semua siswa memiliki akses perangkat dan jaringan yang stabil. Akibatnya, ketimpangan pengalaman belajar bisa makin lebar: siswa dengan koneksi baik lebih mudah mengikuti ritme kelas, sedangkan yang lain sering tertinggal.
Ada pula persoalan interaksi. Diskusi kelas yang hidup sering bergantung pada kontak langsung, bahasa tubuh, dan spontanitas. Dalam kelas hibrida, siswa daring cenderung pasif karena ragu menyela. Jika hal ini terjadi terus-menerus, pembelajaran dapat berubah menjadi satu arah.
Karena itu, kebijakan kelas hibrida sebaiknya tidak dipahami sebagai “jalan pintas modern”. Sekolah perlu menetapkan tujuan yang jelas, menyiapkan dukungan teknis, serta mengatur strategi interaksi agar siswa daring tetap terlibat. Tanpa itu, kelas hibrida berisiko menjadi label baru untuk masalah lama.

Perhatikan kalimat berikut dari teks:

  1. “Sebagian sekolah mulai menerapkan kelas hibrida…”
  2. “Diskusi kelas yang hidup sering bergantung pada kontak langsung…”
  3. “Kelas hibrida berisiko menjadi label baru untuk masalah lama.”

Klasifikasi yang paling tepat:

  • Fakta: …
  • Opini/penilaian: …

15 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Kelas Hibrida: Solusi atau Sekadar Tren?”
Sebagian sekolah mulai menerapkan kelas hibrida: sebagian siswa hadir di kelas, sebagian lain mengikuti secara daring. Pendukungnya menyebut model ini memberi fleksibilitas, terutama ketika siswa sakit atau memiliki kegiatan tertentu. Selain itu, rekaman pembelajaran dinilai membantu siswa mengulang materi.
Namun, beberapa guru mengeluhkan peningkatan beban kerja. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus memastikan perangkat berjalan, memantau kolom chat, dan mengelola tugas yang masuk melalui dua jalur. Di sisi lain, tidak semua siswa memiliki akses perangkat dan jaringan yang stabil. Akibatnya, ketimpangan pengalaman belajar bisa makin lebar: siswa dengan koneksi baik lebih mudah mengikuti ritme kelas, sedangkan yang lain sering tertinggal.
Ada pula persoalan interaksi. Diskusi kelas yang hidup sering bergantung pada kontak langsung, bahasa tubuh, dan spontanitas. Dalam kelas hibrida, siswa daring cenderung pasif karena ragu menyela. Jika hal ini terjadi terus-menerus, pembelajaran dapat berubah menjadi satu arah.
Karena itu, kebijakan kelas hibrida sebaiknya tidak dipahami sebagai “jalan pintas modern”. Sekolah perlu menetapkan tujuan yang jelas, menyiapkan dukungan teknis, serta mengatur strategi interaksi agar siswa daring tetap terlibat. Tanpa itu, kelas hibrida berisiko menjadi label baru untuk masalah lama.

Saran kebijakan yang paling sesuai dengan posisi penulis adalah …

16 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Papan Nama di Sudut Lorong”
Di sudut lorong sekolah, ada papan nama tua bertuliskan “Ruang Seni”. Ruangan itu jarang dibuka. Suatu siang, Nara melihat pintunya sedikit terbuka. Ia masuk pelan dan mendapati kanvas kosong, kuas yang mengeras, serta debu yang menempel di rak.
Di atas meja, ada buku catatan dengan halaman-halaman penuh coretan rancangan mural. Di halaman terakhir, tertulis: “Kalau ruangan ini sepi, bukan berarti tidak dibutuhkan. Mungkin hanya menunggu orang yang berani mulai.”
Nara tidak langsung paham. Ia hanya tahu ia suka menggambar, tetapi selalu merasa karyanya tidak cukup bagus. Saat hendak keluar, langkahnya berhenti. Ia kembali ke meja, mengambil pensil, lalu menggambar garis pertama pada kanvas. Tangannya gemetar, tetapi ia teruskan.
Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan melihat kanvas itu dan berkata, “Akhirnya ada yang menyalakan ruangan ini.” Nara tersenyum kecil. Ia menyadari, keberanian kadang dimulai dari satu garis yang paling sederhana.

Yang ditemukan Nara di ruang seni adalah …

17 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Papan Nama di Sudut Lorong”
Di sudut lorong sekolah, ada papan nama tua bertuliskan “Ruang Seni”. Ruangan itu jarang dibuka. Suatu siang, Nara melihat pintunya sedikit terbuka. Ia masuk pelan dan mendapati kanvas kosong, kuas yang mengeras, serta debu yang menempel di rak.
Di atas meja, ada buku catatan dengan halaman-halaman penuh coretan rancangan mural. Di halaman terakhir, tertulis: “Kalau ruangan ini sepi, bukan berarti tidak dibutuhkan. Mungkin hanya menunggu orang yang berani mulai.”
Nara tidak langsung paham. Ia hanya tahu ia suka menggambar, tetapi selalu merasa karyanya tidak cukup bagus. Saat hendak keluar, langkahnya berhenti. Ia kembali ke meja, mengambil pensil, lalu menggambar garis pertama pada kanvas. Tangannya gemetar, tetapi ia teruskan.
Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan melihat kanvas itu dan berkata, “Akhirnya ada yang menyalakan ruangan ini.” Nara tersenyum kecil. Ia menyadari, keberanian kadang dimulai dari satu garis yang paling sederhana.

Makna kalimat “berani mulai” dalam konteks cerita adalah …

18 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Papan Nama di Sudut Lorong”
Di sudut lorong sekolah, ada papan nama tua bertuliskan “Ruang Seni”. Ruangan itu jarang dibuka. Suatu siang, Nara melihat pintunya sedikit terbuka. Ia masuk pelan dan mendapati kanvas kosong, kuas yang mengeras, serta debu yang menempel di rak.
Di atas meja, ada buku catatan dengan halaman-halaman penuh coretan rancangan mural. Di halaman terakhir, tertulis: “Kalau ruangan ini sepi, bukan berarti tidak dibutuhkan. Mungkin hanya menunggu orang yang berani mulai.”
Nara tidak langsung paham. Ia hanya tahu ia suka menggambar, tetapi selalu merasa karyanya tidak cukup bagus. Saat hendak keluar, langkahnya berhenti. Ia kembali ke meja, mengambil pensil, lalu menggambar garis pertama pada kanvas. Tangannya gemetar, tetapi ia teruskan.
Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan melihat kanvas itu dan berkata, “Akhirnya ada yang menyalakan ruangan ini.” Nara tersenyum kecil. Ia menyadari, keberanian kadang dimulai dari satu garis yang paling sederhana.

Pernyataan:

  1. Nara langsung paham maksud catatan sejak pertama membaca
  2. Cerita menekankan bahwa keberanian bisa dimulai dari langkah kecil
  3. Petugas kebersihan menjadi tokoh yang menghalangi Nara
  4. Kanvas kosong berfungsi sebagai simbol kesempatan untuk memulai

Pernyataan yang benar adalah …

19 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Papan Nama di Sudut Lorong”
Di sudut lorong sekolah, ada papan nama tua bertuliskan “Ruang Seni”. Ruangan itu jarang dibuka. Suatu siang, Nara melihat pintunya sedikit terbuka. Ia masuk pelan dan mendapati kanvas kosong, kuas yang mengeras, serta debu yang menempel di rak.
Di atas meja, ada buku catatan dengan halaman-halaman penuh coretan rancangan mural. Di halaman terakhir, tertulis: “Kalau ruangan ini sepi, bukan berarti tidak dibutuhkan. Mungkin hanya menunggu orang yang berani mulai.”
Nara tidak langsung paham. Ia hanya tahu ia suka menggambar, tetapi selalu merasa karyanya tidak cukup bagus. Saat hendak keluar, langkahnya berhenti. Ia kembali ke meja, mengambil pensil, lalu menggambar garis pertama pada kanvas. Tangannya gemetar, tetapi ia teruskan.
Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan melihat kanvas itu dan berkata, “Akhirnya ada yang menyalakan ruangan ini.” Nara tersenyum kecil. Ia menyadari, keberanian kadang dimulai dari satu garis yang paling sederhana.

Sikap Nara pada awal cerita paling tepat menggambarkan …

20 / 30

Category: Bahasa Indonesia

“Papan Nama di Sudut Lorong”
Di sudut lorong sekolah, ada papan nama tua bertuliskan “Ruang Seni”. Ruangan itu jarang dibuka. Suatu siang, Nara melihat pintunya sedikit terbuka. Ia masuk pelan dan mendapati kanvas kosong, kuas yang mengeras, serta debu yang menempel di rak.
Di atas meja, ada buku catatan dengan halaman-halaman penuh coretan rancangan mural. Di halaman terakhir, tertulis: “Kalau ruangan ini sepi, bukan berarti tidak dibutuhkan. Mungkin hanya menunggu orang yang berani mulai.”
Nara tidak langsung paham. Ia hanya tahu ia suka menggambar, tetapi selalu merasa karyanya tidak cukup bagus. Saat hendak keluar, langkahnya berhenti. Ia kembali ke meja, mengambil pensil, lalu menggambar garis pertama pada kanvas. Tangannya gemetar, tetapi ia teruskan.
Keesokan harinya, seorang petugas kebersihan melihat kanvas itu dan berkata, “Akhirnya ada yang menyalakan ruangan ini.” Nara tersenyum kecil. Ia menyadari, keberanian kadang dimulai dari satu garis yang paling sederhana.

Amanat yang paling sesuai adalah …

21 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Hidden Cost of ‘Free’ Apps”
Many mobile applications appear to be free, but their business model often depends on collecting data. Some apps track location, browsing behavior, or how long users linger on certain screens. The information may be used to personalize advertisements or to predict what users might do next.
Supporters argue that data-driven design improves user experience: recommendations become more relevant, and features can be refined based on real usage patterns. Critics, however, warn that users rarely understand how much they are giving away. Privacy policies are long and written in legal language, and most people click “agree” without reading.
The debate becomes sharper when data is shared with third parties. Even if names are removed, combining different datasets can sometimes identify individuals. As a result, some governments require clearer consent and allow users to opt out. Yet regulation alone may not solve the problem. Users also need the habit of reviewing permissions and questioning whether a “free” service is worth the trade-off.

The passage mainly discusses …

22 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Hidden Cost of ‘Free’ Apps”
Many mobile applications appear to be free, but their business model often depends on collecting data. Some apps track location, browsing behavior, or how long users linger on certain screens. The information may be used to personalize advertisements or to predict what users might do next.
Supporters argue that data-driven design improves user experience: recommendations become more relevant, and features can be refined based on real usage patterns. Critics, however, warn that users rarely understand how much they are giving away. Privacy policies are long and written in legal language, and most people click “agree” without reading.
The debate becomes sharper when data is shared with third parties. Even if names are removed, combining different datasets can sometimes identify individuals. As a result, some governments require clearer consent and allow users to opt out. Yet regulation alone may not solve the problem. Users also need the habit of reviewing permissions and questioning whether a “free” service is worth the trade-off.

Why does the author mention that privacy policies are “long and written in legal language”?

23 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Hidden Cost of ‘Free’ Apps”
Many mobile applications appear to be free, but their business model often depends on collecting data. Some apps track location, browsing behavior, or how long users linger on certain screens. The information may be used to personalize advertisements or to predict what users might do next.
Supporters argue that data-driven design improves user experience: recommendations become more relevant, and features can be refined based on real usage patterns. Critics, however, warn that users rarely understand how much they are giving away. Privacy policies are long and written in legal language, and most people click “agree” without reading.
The debate becomes sharper when data is shared with third parties. Even if names are removed, combining different datasets can sometimes identify individuals. As a result, some governments require clearer consent and allow users to opt out. Yet regulation alone may not solve the problem. Users also need the habit of reviewing permissions and questioning whether a “free” service is worth the trade-off.

In the last paragraph, the word “trade-off” is closest in meaning to …

24 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Hidden Cost of ‘Free’ Apps”
Many mobile applications appear to be free, but their business model often depends on collecting data. Some apps track location, browsing behavior, or how long users linger on certain screens. The information may be used to personalize advertisements or to predict what users might do next.
Supporters argue that data-driven design improves user experience: recommendations become more relevant, and features can be refined based on real usage patterns. Critics, however, warn that users rarely understand how much they are giving away. Privacy policies are long and written in legal language, and most people click “agree” without reading.
The debate becomes sharper when data is shared with third parties. Even if names are removed, combining different datasets can sometimes identify individuals. As a result, some governments require clearer consent and allow users to opt out. Yet regulation alone may not solve the problem. Users also need the habit of reviewing permissions and questioning whether a “free” service is worth the trade-off.

Which statements are supported by the passage?

  1. Data can be used to personalize advertisements.
  2. Removing names always guarantees anonymity.
  3. Regulation alone may not be enough.
  4. Users are encouraged to review app permissions.

25 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Hidden Cost of ‘Free’ Apps”
Many mobile applications appear to be free, but their business model often depends on collecting data. Some apps track location, browsing behavior, or how long users linger on certain screens. The information may be used to personalize advertisements or to predict what users might do next.
Supporters argue that data-driven design improves user experience: recommendations become more relevant, and features can be refined based on real usage patterns. Critics, however, warn that users rarely understand how much they are giving away. Privacy policies are long and written in legal language, and most people click “agree” without reading.
The debate becomes sharper when data is shared with third parties. Even if names are removed, combining different datasets can sometimes identify individuals. As a result, some governments require clearer consent and allow users to opt out. Yet regulation alone may not solve the problem. Users also need the habit of reviewing permissions and questioning whether a “free” service is worth the trade-off.

The author’s main purpose is to …

26 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Interview”
Rina rehearsed her answers on the bus, quietly mouthing phrases she had written the night before. She was not worried about her grades—those were solid. What unsettled her was the possibility of sounding ordinary.
When her turn came, the interviewer asked an unexpected question: “Tell me about a time you changed your mind.” Rina froze. Her prepared lines suddenly felt useless. She remembered a school project where she insisted on leading alone, believing it would be faster. Halfway through, she realized her teammates were disengaged, not lazy, but unheard. She invited them to redesign the plan. The project took longer, yet the final presentation was sharper, and the team looked proud instead of relieved.
As she spoke, Rina noticed the interviewer stop taking notes and simply listen. The room seemed less like a test and more like a conversation. When she left, Rina understood something: being impressive was not about sounding perfect. It was about being honest enough to learn.

Rina initially felt unsettled because she …

27 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Interview”
Rina rehearsed her answers on the bus, quietly mouthing phrases she had written the night before. She was not worried about her grades—those were solid. What unsettled her was the possibility of sounding ordinary.
When her turn came, the interviewer asked an unexpected question: “Tell me about a time you changed your mind.” Rina froze. Her prepared lines suddenly felt useless. She remembered a school project where she insisted on leading alone, believing it would be faster. Halfway through, she realized her teammates were disengaged, not lazy, but unheard. She invited them to redesign the plan. The project took longer, yet the final presentation was sharper, and the team looked proud instead of relieved.
As she spoke, Rina noticed the interviewer stop taking notes and simply listen. The room seemed less like a test and more like a conversation. When she left, Rina understood something: being impressive was not about sounding perfect. It was about being honest enough to learn.

In “those were solid,” the word “those” refers to …

28 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Interview”
Rina rehearsed her answers on the bus, quietly mouthing phrases she had written the night before. She was not worried about her grades—those were solid. What unsettled her was the possibility of sounding ordinary.
When her turn came, the interviewer asked an unexpected question: “Tell me about a time you changed your mind.” Rina froze. Her prepared lines suddenly felt useless. She remembered a school project where she insisted on leading alone, believing it would be faster. Halfway through, she realized her teammates were disengaged, not lazy, but unheard. She invited them to redesign the plan. The project took longer, yet the final presentation was sharper, and the team looked proud instead of relieved.
As she spoke, Rina noticed the interviewer stop taking notes and simply listen. The room seemed less like a test and more like a conversation. When she left, Rina understood something: being impressive was not about sounding perfect. It was about being honest enough to learn.

Which statement best reflects the story’s theme?

29 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Interview”
Rina rehearsed her answers on the bus, quietly mouthing phrases she had written the night before. She was not worried about her grades—those were solid. What unsettled her was the possibility of sounding ordinary.
When her turn came, the interviewer asked an unexpected question: “Tell me about a time you changed your mind.” Rina froze. Her prepared lines suddenly felt useless. She remembered a school project where she insisted on leading alone, believing it would be faster. Halfway through, she realized her teammates were disengaged, not lazy, but unheard. She invited them to redesign the plan. The project took longer, yet the final presentation was sharper, and the team looked proud instead of relieved.
As she spoke, Rina noticed the interviewer stop taking notes and simply listen. The room seemed less like a test and more like a conversation. When she left, Rina understood something: being impressive was not about sounding perfect. It was about being honest enough to learn.

Choose the best completion:
“The project took longer, ____ the final presentation was sharper.”

30 / 30

Category: Bahasa Inggris

“The Interview”
Rina rehearsed her answers on the bus, quietly mouthing phrases she had written the night before. She was not worried about her grades—those were solid. What unsettled her was the possibility of sounding ordinary.
When her turn came, the interviewer asked an unexpected question: “Tell me about a time you changed your mind.” Rina froze. Her prepared lines suddenly felt useless. She remembered a school project where she insisted on leading alone, believing it would be faster. Halfway through, she realized her teammates were disengaged, not lazy, but unheard. She invited them to redesign the plan. The project took longer, yet the final presentation was sharper, and the team looked proud instead of relieved.
As she spoke, Rina noticed the interviewer stop taking notes and simply listen. The room seemed less like a test and more like a conversation. When she left, Rina understood something: being impressive was not about sounding perfect. It was about being honest enough to learn.

The tone of the last sentence (“…being impressive was not about sounding perfect…”) is best described as …

Your score is

The average score is 33%

0%


Rangking Saya


-

Poin


0

 


Hasil Saya


You must log in to see your results.



Semua Hasil


You must log in to see your results.